Home » Subdirektorat Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi » Zonasi Adalah Niat Besar Kemdikbud Membangun Pemerataan dan Mutu Pendidikan

Zonasi Adalah Niat Besar Kemdikbud Membangun Pemerataan dan Mutu Pendidikan

346
Views
Whatsapp
PG Dikdas, Jakarta - Pada pembukaan Kegiatan  Pembekalan Calon Guru Inti Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi  di Hotel Peninsula Jakarta, Kamis (15/8/2019), Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Supriano mengungkapkan untuk ke depannya para guru ini diberikan peluang untuk mendapatkan pembelajaran yang baik serta tidak dibebankan dengan administrasi yang cukup banyak.

“Guru akan kita berikan peluang yang lebih  agar konsentrasi belajar pun baik. Untuk ke depannya, ini sedang kita pikirkan bahwa guru jangan lagi dibebankan kepada administrasi yang cukup banyak,” ucapnya.

Seiring dengan slogan 74 tahun Republik Indonesia, ‘SDM Unggul, Indonesia Maju’, ia pun berpesan bahwa SDM yang unggul dan memiliki kompetensi yang bagus itu tidak lepas dari pendidikan.

“Sesuai arahan Presiden, bahwa sekarang tidak lagi berfokus pada infrastruktur, tetapi kepada sumber daya manusia. SDM yang unggul dan mempunyai kompetensi yang bagus tidak lepas dari peran pendidikan. Di sinilah guru berperan. Tetapi peran tersebut pun tidak bisa berdiri sendiri. Guru harus bekerja sama dengan ekosistem yang ada di sekolah,” ungkapnya.

Kebijakan zonasi sendiri lahir dari riset, yang muaranya pada peningkatan pemerataan dan mutu pendidikan.

“Itulah kenapa Ditjen GTK pada tahun ini menggeser pelatihan. Karena ada beberapa catatan yang kita dapatkan, ketika pelatihan kita tarik ke pusat, ketika pelatihan kita fokuskan ke suatu daerah, siapa yang menjamin setelah pelatihan para guru itu akan melakukan di kelas. Tidak ada yang menjamin. Itulah mulai tahun sekarang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui kebijakan zonasi, yang selama ini kita kenal zonasi untuk PPDB tapi ke depan zonasi mempunyai niat yang sangat besar,” ujar Supriano.

“Sekarang ada 2.580 zona di seluruh Indonesia. Kalau SMP saja ada 10 mapel berarti ada 10 kelompok guru di masing-masing zona. Dikali 2.580 berarti nanti akan ada 25.800 kelompok guru untuk SMP, apakah dia Matematika, PJOK, atau mata pelajaran yang lainnya. Bayangkan ada 25.800 kelompok dikali satu kelompok rata-rata 20 saja sudah berapa ratus ribu, 500 ribu lebih nanti,” tutupnya.

Previous post

Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Guru Melalui MGMP dan KKG

Next post

Pengembangan Pembelajaran Berorientasi HOTS

No Comment

Leave a reply