Subdirektorat Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan

Persiapan Guru CLC Tidak Hanya Materi Tetapi Mental dan Fisik Juga

734
PG Dikdas, Jakarta - Persiapan yang matang tentu harus dilakukan dalam melaksanakan sesuatu. Begitu juga yang harus dipersiapkan oleh guru-guru CLC yang mengikuti Bimbingan Teknis Guru CLC Sabah-Serawak Tahap 10 Malaysia di Hotel Ambhara Jakarta.

Persiapan yang dilakukan tidak hanya terkait fisik tetapi juga mental yang kuat. Hal ini juga menjadi perhatian Bagus Wicaksono peserta Bimbingan Teknis Guru CLC Sabah-Serawak Tahap 10 Malaysia.

Ia mengungkapkan bahwa kesiapan mental itu menjadi kunci tetapi fisik pun juga perlu disiapkan.

“Persiapan yang pertama adalah mental, karena kalau misalnya kita takut dan sebagainya, baiknya tidak usah ikut terlebih dahulu. Kepergian kita ini memerlukan banyak pengorbanan, baik itu keluarga, waktu dan lain-lain. Mental harus disiapkan, karena ini awalnya kita tinggal di tempat yang enak lalu harus tinggal di tempat yang mungkin fasilitasnya sangat kurang, kita harus siap-siap. Fisik juga, kondisi di sana, di ladang kelapa sawit tentu memerlukan fisik yang siap. Terlebih kita sudah mendengar sharing dari alumni terkait kondisi di sana, yang harus menyeberang sungai, tempat tinggal yang mungkin kurang, dan lain-lain. Kalau ingin mengikuti kegiatan ini harus berpikir terlebih dahulu, kalau sudah siap, oke berangkat mencerdaskan kehidupan bangsa,” ucap Bagus yang juga pernah mengikuti program SM3T ini, Minggu (20/10/2019) di Ballroom Dirgantara Hotel Ambhara.

Tak hanya itu, yang menjadi tantangan pun tidak luput dari perhatian Bagus. Tantangan ketika mengajar dengan kondisi yang mungkin kurang tentu harus disiasati olehnya. Ia mengungkapkan salah satu cara menerapkan pembelajaran di sana adalah dengan menggunakan segala sesuatu yang ada di alam sekitar.

“Sebelumnya saya pernah mengajar di program SM3T, di program itu kita itu bersama-sama, satu kelompok, sedangkan di sini satu orang ditempatkan di satu tempat yang mungkin kepala sekolahnya belum ada, ruang kelasnya mungkin juga belum ada, apalagi kondisi geografisnya kita sudah tahu lewat sharing dari alumni, itu menjadi tantangan,” ungkapnya.

“Dari program SM3T yang pernah saya ikuti, setidaknya ada pandangan, saya bisa menerka-nerka kira-kira seperti apa pembelajaran yang bisa diterapkan di sana. Otomatis beda dengan kota, fasilitas dan lain-lain sudah terpenuhi, kalau di pedalaman kita harus menggunakan apapun itu, misalnya yang ada di alam sekitar, terutama mengenai jiwa nasionalisme harus ditumbuhkan oleh anak-anak Indonesia di Malaysia karena mereka bagian dari Indonesia dan memiliki mimpi-mimpi yang sama sebagai putra-putri terbaik bangsa.

Bagus mengatakan bahwa ini kali pertama ia mengikuti CLC. Ia pun mendaftarkan diri di program ini karena merasa tertantang dan terpanggil jiwanya untuk mendidik anak Indonesia di Malaysia.

Dari kegiatan ini pun ia berharap dengan ilmu yang ia punya bisa membuat anak-anak Indonesia di Malaysia semakin percaya akan mimpi dan cita-cita mereka.

“Harapan saya ilmu yang saya punya walaupun sedikit bisa berguna bagi mereka. Dan mereka bisa berproses dan berkembang mewujudkan cita-cita mereka. Mereka punya mimpi, kita harus memberikan motivasi kepada mereka supaya bisa berkembang. Saya percaya, seekor ulat bisa menjadi kupu-kupu yang indah, dan seorang yang awalnya di bawah bisa meraih kesuksesan,” tutupnya.

Recomended

Comments