Subdirektorat Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan

Iksan: Saya Pergi Untuk Kembali

167
PG Dikdas, Jakarta – Ada banyak kesamaan  yang membuat seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu. Salah satunya terkait dengan pendidikan. Seperti halnya Muhammad Iksan peserta Bimbingan Teknis Guru CLC Sabah-Serawak Tahap 10 yang berasal dari Provinsi Aceh.

Ditemui di sela-sela pembekalan materi, Sabtu (19/10/2019) di Ballroom Dirgantara Hotel Ambhara Jakarta, Iksan mengungkapkan mengapa dirinya sangat tertarik untuk mengikuti program ini dikarenakan ia ingin memotivasi anak-anak yang berada di tanah kelahirannya agar mau bersungguh-sungguh mengenyam pendidikan yang baik.

“Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya harus mengikuti program ini. Salah satunya adalah karena di daerah saya itu jarang sekali yang menjadi sarjana, motivasi anak-anak itu kurang dalam pendidikan. Dan saya ingin memberikan contoh kepada mereka, bahwa dengan pendidikan saya bisa pergi ke luar negeri, mungkin dengan melihat saya pergi ke luar negeri, anak-anak tergerak dan termotivasi untuk sekolah. Selain itu, ilmu yang saya dapat sebagai guru akan sia-sia jika tidak disebarkan, maka dari itu dengan menjadi pembimbing anak-anak Indonesia di Malaysia, saya harap ilmu yang saya dapat bisa berguna untuk mereka dan membuat mereka ingin bersekolah dan meraih cita-cita,” ucap guru Geografi ini.

“Motivasi lain tentu terkait ekonomi, saya ingin meningkatkan ekonomi keluarga,” tambahnya.

Memiliki satu anak tentu menjadi hal yang berat untuknya melangkah pergi ke Malaysia, tetapi karena ini adalah tugas negara tentu hal itu bisa dikesampingkan.

“Sebenarnya meninggalkan keluarga itu berat untuk diceritakan, saya punya seorang anak yang usianya mau dua tahun, setiap hari ketika saya di sini, ia menanyakan, “Abi mana?”, itu berat, setiap hari saya harus video call. Tapi karena ini tugas negara, saya harus menjalankannya, karena saya juga yang ingin, dengan mendaftar di awal pun saya sudah siap. Keluarga saya bukan ditinggalkan, tapi ditinggalkan untuk kembali,” ungkapnya.

Terkait materi yang diberikan pada bimbingan teknis ini, ia mengatakan bahwa ada ilmu baru yang ia dapat yang nantinya bisa diimplementasikan di Malaysia.

“Yang di dapat di sini dengan di daerah memang banyak yang sama, tetapi juga ada yang berbeda. Contohnya adalah dalam menentukan KKM sekolah, itu harus dilihat dari mata pelajaran terendah, misalkan IPA nilai 70, Matematika 65, dan PKN 75. Berarti untuk KKM sekolahnya adalah 65, yang dulu saya pahami tidak seperti itu, dan ini menjadi ilmu baru untuk saya,” tukasnya.

Harapan besar tentu ada dalam benak guru-guru CLC ini, Iksan pun mengungkapkan harapannya bahwa program ini terus berjalan mengingat ada anak-anak Indonesia yang membutuhkan pendidikan yang layak.

“Program ini saya rasa sangat penting, dan harus terus berjalan, pemerataan pendidikan harus dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama anak-anak di luar negeri ini. Dengan adanya program ini anak-anak itu tentu dapat menikmati pendidikan yang layak,” tutupnya.

Recomended

Comments