Guru Penggerak

Guru Penggerak Harus Percaya pada Potensi Anak

642
GTK Dikdas - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melakukan diskusi daring dengan kepala sekolah mengenai inovasi dan praktik baik pembelajaran di sekolah. Diskusi berlangsung di tengah peluncuran kebijakan “Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak”, melalui konferensi video daring, Jumat (3/7/2020). Dalam diskusi tersebut Mendikbud mengatakan, perubahan tidak mungkin bisa terjadi jika guru maupun pimpinan unit pendidikan tidak percaya pada potensi anak.

“Kalau mental kita mudah menyerah dan tidak percaya pada potensi anak, tidak mungkin bisa tercapai lompatan kualitas pembelajaran, atau kalau kita tidak percaya bahwa anak itu bisa jauh lebih baik dari dia yang sekarang. Guru harus punya optimisme, keyakinan, dan keimanan bahwa potensi anak itu ada di dalam dan tinggal dikeluarkan, tinggal difasilitasi, dan dikembangkan,” tutur Mendikbud Nadiem Makarim.

Menurut Mendikbud, guru dan kepala sekolah harus menciptakan lingkungan sekolah yang bisa memaksimalkan potensi peserta didiknya. Pendidik harus bisa mengikuti kemampuan masing-masing anak yang berbeda-beda, dan mengikuti level kompetensi anak. “Karena yang terpenting bukan semua anak standarnya sama. Yang terpenting adalah setiap anak belajar, setiap anak meningkat kapasitasnya,” ujarnya.

Ia juga menuturkan, pentingnya melihat kondisi psikologis anak prapembelajaran. Karena saat seorang anak merasa stres, ia juga akan merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri dalam mengikuti pembelajaran. “Banyak yang tidak menyadari koneksi antara sekolah yang menyenangkan dengan pembelajaran. Padahal psikologi anak di sekolah dengan potensi pembelajaran dia itu eksponensial,” ujar Mendikbud.

Potensi setiap anak yang berbeda dan kondisi psikogis anak yang berbeda pula itulah yang menjadi perhatian Mariance Wila Dida dalam menerapkan inovasi metode pembelajaran di sekolah yang dipimpin.

Mariance Wila Dida adalah Kepala Sekolah SDN 9 Masohi, Maluku Tengah. Sejak tahun 2016, wanita yang akrab dipanggil Ibu An ini memimpin sekolahnya untuk bertransformasi sebagai sekolah ramah anak yang mendukung pembelajaran murid. Pada awalnya Ibu An merasa skeptis bahwa murid bisa menjadi disiplin tanpa dipukul. Namun setelah menjalani penerapan disiplin positif dan pembelajaran aktif berpusat pada murid, ia melihat dampak positif pada murid dan guru. Kini Ibu An adalah Penggerak Komunitas Sekolah Ramah Anak di Maluku Tengah yang mendampingi sekolah-sekolah di Masohi untuk bertransformasi menjadi Sekolah Ramah Anak. Hasilnya, murid bisa menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, saling menyapa, bersemangat, dan mandiri belajar.

“Ada dampak besar dari sekolah ramah anak. Salah satunya adalah dampak ke orang tua, bagaimana orang tua itu sendiri bisa menerima kenyataan bahwa anak punya keunikan tersendiri,” kata Ibu An.

Ibu An merupakan contoh guru penggerak yang telah menerapkan praktik baik dalam pembelajaran dengan hasil yang berdampak. Untuk menciptakan lebih banyak lagi guru penggerak seperti mereka, Kemendikbud meluncurkan kebijakan “Merdeka Belajar Episode 5: Guru Penggerak”. Arah program Guru Penggerak berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik, pelatihan yang menekankan pada kepemimpinan instruksional melalui on-the-job coaching, pendekatan formatif dan berbasis pengembangan, serta kolaboratif dengan pendekatan sekolah menyeluruh. Pelatihan kepemimpinan sekolah baru diawali dengan rekrutmen calon Guru Penggerak. Selanjutnya dilakukan pelatihan Guru Penggerak dengan mengikuti lokakarya pada fase pertama dan pendampingan pada fase kedua.

Recomended

Comments